06 | 03 | 18

yang terbersit dan terjadi...

Sejak jadi freelancer, saya kerap kebingungan dengan pola kerjasama dengan pihak yang kemudian disebut sebagai klien. 
Tapi, sekarang nggak terlalu bingung lagi, sih. Karena mostly (pola dan tingkah mereka) kayak begitu.
Awalnya, mereka pasti semangat, menggebu-gebu, dan minta semuanya cepat. 
Misalnya, sebagai seorang penulis dan editor, klien selalu minta (dengan cepat) contoh tulisan dan rencana ide konten. Fine, saya beri.
Berikutnya, saya rasa wajarnya adalah giliran mereka memberikan feedbacks, apakah contoh yang saya berikan cocok atau justru tidak. Nah, ini.
Yang terjadi, mereka biasanya dengan segera minta ketemuan, langsung diskusi, dan kadang langsung membahas eksekusi.
Di situ saya kadang merasa (sedih?)... bingung. Ini maksudnya apa ya? Cocok ya?
Kalau cocok, kenapa kebanyakan klien tidak membahas dulu soal fee proposal sebelum masuk ke tahap eksekusi? 
Mungkin, "ketemuan langsung dulu supaya tahu saya orangnya seperti apa dan apakah cocok dengan proyek yang ditawarkan?" Fair enough. Tapi, seringnya, pas ketemuan mereka langsung membahas ini-itu yang sudah masuk ke dalam tahap eksekusi. Plus, biasanya diskusinya langsung dengan pihak-pihak yang mana seharusnya saya bertemu mereka ketika saya sudah resmi dikontrak alias sudah official pegang proyek ini.
Saya pernah lho, diajak ketemuan pertama, eh ternyata langsung diajak ketemuan dengan pihak ketiga yang menjadi klien (2) dari klien (1) saya ini. Di miting itu, saya harus 'berpura-pura' sudah jadi bagian dari tim klien (1) saya itu. Miting berjalan sukses, sih. Saya juga jadi lebih jelas dapat gambaran tentang proyek tersebut setelah langsung ketemu dengan si klien (2). The thing is, urusan saya dengan klien (1) saya itu belum tuntas! Perjanjian kerja saya di proyek itu masih belum jelas, dan terutama (iya, ini utama bagi saya, penting bagi freelancer) adalah fee proposal yang same sekali belum dibahas.
Singkat cerita, proyek ini akhirnya saya ambil dan kerjakan. And you know what, fee proposal saya ditawar jauh. Setelah kesepakatan, dari 4 bulan mengerjakan proyek ini, fee saya dipotong di bulan ketiga. Alasannya apa? Ternyata si klien (1) ini memang nggak fair aja sih karakternya. Alasan dia membawa saya langsung bertemu dengan klien (2) rupanya untuk di kemudian hari bisa bersikap seperti ini, "lho, kamu kan tahu sendiri, dia (klien 2) belum bayar ke kita, jadi kita juga nggak bisa bayar kamu, lah!". 
I was like... "Tapi kan, gue kerja buat lo, nyet! Lo yang bayar gue, bukan dia!".
So, anyway, this project went bad. 
I certainly learned my lesson.
Makanya, wahai para klien, kindly understand ya kalau saya kelihatan ragu di awal kalau Anda minta banyak hal sementara kontrak dan fee masih enggan untuk dibahas.
You know the story behind it, lah. (Emang calon klien lo bakal baca ini, Gie? Lol.)
I love what i'm doing. Seneng juga bisa kerjasama dengan berbagai pihak, dengan random proyek yang seru dan kadang menantang. Tapi, play fair lah ya....

Gigit cokelat dan menyesap teh hangat...

Comments